Wednesday, October 5, 2016

JAGA GAIRAH GURU KALAU PENDIDIKAN INGIN MAJU

KOMPAS.com-
 Engkau sebagai pelita dalam kegelapan, Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa....

Masih hapal lirik lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di atas? Lagu untuk para guru dan pendidik. Lirik lagu itu menunjukkan betapamulia profesi guru. 

“Pendidik adalah teladan bagi peserta didiknya," kata CEO & Founder Elite Tutors Indonesia, Sumarsono, Kamis (16/9/2016).

Guru, lanjut Sumarsono, tidak hanya bertanggung jawab atas penyampaian materi tetapi juga berperan sebagai panutan.

Namun, tak bisa dimungkiri guru juga manusia biasa yangmemiliki banyak kebutuhan hidup untuk dipenuhi. Sayangnya, keluhan soal kesejahteraan para guru masih terus saja bergaung. 

Seperti dilansir Kompas.com pada Jumat (29/1/2016), misalnya, masalah ini menjadi agenda Konferensi Kerja Nasional IIIPersatuan Guru Republik Indonesia pada Januari 2016.

Keluhan yang mencuat antara lain pengucuran tunjangan belum tepat waktu. Persyaratan penerimaan tunjangan juga dirasa terlalu banyak. Proses kenaikan pangkat pun disebut masih rumit.

Belum lagi soal jabatan fungsional dan kecilnya pendapatan guru honorer. Juga, sejumlah tunjangan khusus disebut belum merata.

Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Guru bantu demo di Balai Kota, Kamis (26/5/2016). Mereka menuntut diikutsertakan dalam tes CAT CPNS DKI Jakarta.

Padahal, tanggung jawab guru tidak kecil. Rasio guru dan murid juga sering tak seimbang. 

Menurut PP 74/2008 tentang Guru, idealnya satu guru maksimalmengajar 20 siswa. Kenyataannya, satu guru kerap mendidik lebihdari 40 siswa pada satu waktu.

Terlebih lagi, ada tuntutan moral dan etika yang erat melekat pada sosok guru, mulai dari tutur kata hingga perilaku. 

Untuk itu semua, seorang guru harus terus-menerus mengasah kualitas dan membangun kepribadian. 

“Jadilah guru yang kehadirannya selalu dinanti peserta didik karena metode pengajarannya menarik," ujar Sumarsono.

Agar pengajaran efektif, lanjut Sumarsono, guru sebaiknyamemastikan pula terlebih dahulu muridnya memang sudah siap menerima materi pelajaran.  
 
Gairah

Dalam perbincangan dengan Kompas.com, Sumarsono mengaku tidak sependapat bila guru harus menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Bukan pula berarti guru perlu medali.

Namun, kata Sumarsono, guru harus dipastikan hidup sejahtera.Harapannya, kesejahteraan itu akan membuat guru terus termotivasi mengembangkan diri.

"Semakin berkembang guru, ia akan semakin maksimal mengajar, sehingga anak didik ikut berkembang," ungkap Sumarsono.

Menurut Sumarsono, saat ini pendidikan masih terlalu terpaku pada pengabdian. Seolah-olah, kata dia, mulianya profesi inimembuat guru tidak perlu sejahtera. 

"(Namun), saya menekankan, pendidik jangan (lalu) menuntut dibayar mahal, tapi (pendidik yang harus) memantaskan diri,” tegas Sumarsono.

Tentu saja, guru juga harus terus menambah kompetensi agarpantas dibayar mahal itu. Di dalamnya termasuk mempelajarikasus-kasus yang berkembang di dunia pendidikan dan cara menghadapi anak-anak tertentu.
KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMANAktivis PMII Pamekasan bersama kota-kota lain di Jawa Timur, menggelar aksidemontrasi menuntut Bupati Pamekasan, memenuhi janjinya untuk meningkatkan kesejahteraan guru.

“Nah, bagaimana pendidik (sekarang) mau berkembang kalau sambil mikir besok mau makan apa? Pendidikan macam apa yangmau dibangun oleh pendidik yang tidak sejahtera?” tanya Sumarsono.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Sumarsono pun memastikan para tutor di lembaganya mendapatkan bayaran pantas dan hidupsejahtera. Dari situ dia juga memastikan kualitas para pengajar di lembaganya. 

“Guru harus memiliki dua kualitas utama. Kualitas latar belakangakademik dan kepribadian menarik," tegas dia.

Menurut Sumarsono, peserta didik akan sulit menerima ilmu dariguru yang tidak konsisten dan perilaku kesehariannya bertolakbelakang dengan ajarannya.

Sistem evaluasi pun Sumarsono bangun. Hasil dari proses ini dilaporkan pula ke orangtua murid, berbarengan dengan dataperkembangan program.

"Jadinya, guru pun semangat belajar," ungkap dia.

Satu lagi, gairah atau passion adalah kata penting dalam prosespendidikan. Guru yang punya gairah tinggi mendidik akanotomatis punya empati kepada anak didiknya. 

Dengan sendirinya, sebut Sumarsono, guru itu berpikirkesuksesan peserta didik adalah kesuksesannya. Sebaliknya juga buat para murid. 

Lagi-lagi, gairah ini tak bisa dipisahkan dengan kesejahteraan.Sumarsono menganalogikan, gairah tanpa kesejahteraan ibaratmengendarai mobil tanpa pengisian kembali bensin. "Tinggal tunggu mogok (kalau begitu)," tegas dia.

I

Tuesday, October 4, 2016

polisi temukan mas palsu dan uang palsu

MAKASSAR, KOMPAS.com
 - Emas palsu yang ditemukan tim penyidik dari Polda Jatim dan Polda Sulsel di rumah korban Kanjeng Taat Pribadi, almarhumah Najmiah di perumahan dosenUniversitas Hasanuddin (Unhas) Jl Sunu, Makassar, mencapai 500kilogram.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Polda Sulsel Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Anton Charliyan kepada wartawan seusai melakukan penggeledahan di rumah almarhumah Najmiah, Selasa (4/10/2016).
Menurut Anton, selain 500 kilogram emas batangan palsu bergambar palu arit, polisi juga menemukan 1 koper uang asingpalsu dari berbagai negara. Turut serta disita beberapa ikat atau blok kertas putih polos yang telah dipotong-potong sebesarukuran uang dan tiga buah keris pemberian Kanjeng Dimas TaatPribadi.
"Total emas palsu sekitar 500 kilogram lebih, uang palsu dariberbagai negara. Beberapa ikat kertas polos terbungkus kertaskopi yang kata Kanjeng isi blok itu uang semua. Jadi ada 9 peti ajaib yang kata Kanjeng isinya emas dan uang tidak akan habis-habis. Di sinilah penipuannya semua Kanjeng dan semuanya akan dibawa ke Labfor Polda Jawa Timur untuk diteliti lebih lanjut,"tuturnya.
Anton mengungkapkan, terdapat 3.000-an lebih pengikut DimasKanjeng Taat Pribadi yang tersebar di Sulsel. Namun Polda Sulselyang telah membuka posko pengaduan Kanjeng belum meneima laporan para korban.
"Baru 1 korban Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang ada di Makassarmelapor ke Polda Jatim, yakni keluarga almarhum Najmiah," kata Anton.
Terkait dengan kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pihaknya jugaakan memeriksa 9 orang saksi korban.

Thursday, September 15, 2016

TAK ADA SISWA YANG BODOH,CEK LAGI CARA AJARNYA!

Tak Ada Siswa yang Bodoh, Cek Lagi Cara Ajarnya!

ang112



KOMPAS.com – Lagu Indonesia Raya berkumandang di Hanoi National University of Education, Vietnam pada Juli 2016. Di sana, Wilson Gomarga (18), pelajar SMA IPEKA, memperoleh medali emas di kompetisi International Biology Olympiad (IBO) ke-27. 

Masih pada Juli, Noval Ilham Arfiansyah dan Tangguh Achmad Fairuzzabady juga berhasil memperoleh medali perak dan perunggu Olimpiade Matematika di Singapura. Kedua siswa kelas 6 itu mengalahkan ribuan peserta lain di ajang internasional itu. 

Memang, sudah banyak pelajar Indonesia yang berprestasi dan sukses menjuarai olimpiade. Namun, tak dapat dimungkiri banyak pula siswa yang berprestasi rendah di sini. 

Studi International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) di Asia Timur, misalnya, memperlihatkan keterampilan membaca kelas 4 SD di Indonesia berada di peringkat terendah ketika dibandingkan dengan negara tetangga.

Rata-rata skor tes membaca tertinggi diraih Hongkong (75,5). Peringkat kedua diduduki oleh Singapura (74). Sementara itu, Thailand berada di posisi ketiga (65.1). Filipina satu peringkat lebih tinggi dari Indonesia (52.6).

Adapun skor tes siswa Indonesia adalah 51,7. Mereka hanya mampu menguasai 30 persen materi bacaan. 

Selain itu, pelajar Indonesia juga kesulitan menjawab soal-soal penalaran yang membutuhkan pemahaman. Hal ini disebabkan mereka terbiasa menghapal dan menjawab soal pilihan ganda.

Ada apa?

Tak ada faktor tunggal

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Tantangannya, sistem pendidikan formal Indonesia cenderung memperlakukan siswa sama rata.

"Padahal, semua anak berbeda. Setiap anak punya kekhususan berbeda. Ketika diperlakukan sama, ada yang bisa mengikuti, ada yang tidak," ungkap Founder & CEO Elite Tutors Indonesia, Sumarsono, saat ditemui di Jakarta, Rabu (7/9/2016).
EliteBimbingan belajar privat

Menurut Sumarsono, bisa jadi sistem pengajaran tersebut membuat sejumlah anak tak terseleksi. "Memiliki kekhususan tetapi tidak terlihat oleh sistem yang ada," ujar dia.

Ada beragam kondisi yang membuat pengajaran tak optimal terserap oleh siswa. Misalnya, anak kurang konsentrasi saat guru menjelaskan. 

Terkadang, anak-anak terlihat memperhatikan pelajaran tetapi sebenarnya mereka sedang melamun atau bahkan mengerjakan hal lain. Pelajar juga seringkali kurang minat dengan pelajarannya.

Atau, bisa jadi siswa tak suka dengan metode ajar gurunya. Kebanyakan guru mengajar dengan metode ceramah sehingga siswa merasa bosan. 

Bisa juga, fasilitas sekolah kurang menunjang. Minim perpustakaan atau alat ajar, bisa jadi di antaranya. 

Kenali Kebutuhan Siswa
Dari fenomena-fenomena di atas, Sumarsono berpendapat setiap anak butuh dukungan untuk bisa mendapatkan potensi terbaik. 

Menurut Sumarsono, setiap anak punya kekhususan. “Anak biasanya mencari support dari luar dengan ikut bimbingan belajar (bimbel)," kata dia.

Sumarsono menambahkan, sebagian siswa ikut program belajar karena memang memiliki masalah belajar dan ingin mengatasinya.

Namun, kata Sumarsono, anak yang pintar di sekolah juga bisa saja tetap mengikuti bimbel untuk menambah lagi kepandaian. 

“Anak sukses maupun tidak sukses sama-sama ingin mengetahui kemampuan mereka yang masih terpendam," ungkap Sumarsono.

Dari semua fenomena tersebut, Sumarsono pun menggagas sistem tailor-made yang dikembangkan di lembaganya. 

"Sistem ini sudah banyak diterapkan sekolah dan lembaga pendidikan di luar negeri, tapi belum familiar di Indonesia," tutur Sumarsono.

Silabus dalam sistem ini dibuat berdasarkan kebutuhan dan tujuan anak. Di dalamnya tercakup mata pelajaran dan target nilai yang ingin dicapai siswa. 

“Tujuan anak ikut tambahan pelajaran macam-macam, (seperti) ingin masuk sekolah favorit, ingin masuk perguruan tinggi negeri, atau ingin kuliah di luar negeri,” sebut Sumarsono.

THINKSTOCKPHOTOSIlustrasi

Selain silabus tersebut, sistem tailor-made juga merancang pola ajar yang menghibur. Saat murid sudah merasa nyaman dengan pendidik, mereka akan terbuka dengan sendirinya dan lebih mudah menerima pengajaran. 

Ibarat tabung keilmuan, kata Sumarsono, kenyamanan ini membuat tabungnya terbuka sehingga ilmu mudah masuk. 

Terlebih lagi, kata Sumarsono, tantangan yang dihadapi pelajar sekarang teramat beragam, dari kurikulum sampai kemungkinan masalah domestik keluarga. 

"Di situ kami berperan, tutor menempatkan diri sebagai teman," tegas Sumarsono. "Di kami, chemistry antara peserta didik dan tutor sangat dijaga, karena usia peserta didik kami lebih mendengar teman daripada orangtua," imbuh dia.

Satu hal yang paling berbeda dari lembaganya dibandingkan bimbel pada umumnya, sebut Sumarsono, adalah sistem privat. Satu siswa ditangani oleh satu tim tutor yang membantu dan memantau kemajuan dan target belajarnya. 

Sebelum silabus disusun, tambah Sumarsono, lembaganya membuat pula mekanisme one stop service. Mekanisme ini memastikan kebutuhan dan tujuan siswa belajar di lembaga ini. "Prosesnya sekitar dua pekan," sebut dia.

Masih berpikiran ada anak bodoh? Coba dicek lagi....




Monday, August 1, 2016

RPP KUR 13 KLS IV 3.1.1.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan      : SD Al Khairiyyah Tegal      
Kelas/Semester            : IV/1
Tema                           : Peduli terhadap Makhluk Hidup  
Sub Tema                    : Hewan dan Tumbuhan di Lingkungan Rumahku
Pembelajaran  ke         : 1
                                    Waktu                                     : 6 jam pelajaran

A. Kompetensi Inti
KI 1
:
Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya
KI 2
:
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangganya
KI 3
:
Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati ( mendengar, melihat, membaca ) dan bertanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain
KI 4
:
Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

B. Kompetensi Dasar dan Indikator
IPA
Kompetensi Dasar:
1.1         Bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas  alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, sertamewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya

2.1  Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun;  hatihati; bertanggung jawab; terbuka; dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan inkuiri ilmiah dan berdiskusi

3.1     Menjelaskan bentuk luar tubuh hewan dan tumbuhan dan fungsinya
4.1     Menuliskan hasil pengamatan tentang bentuk luar (morfologi) tubuh hewan dan tumbuhan serta fungsinya
Indikator:
3.1.1  Menjelaskan bentuk luar (morfologi) tubuh hewan dan fungsinya setelah mengamati gambar


Matematika
Kompetensi Dasar:
1.1          Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya

2.1     Menunjukkan sikap kritis, cermat dan teliti, jujur, tertib dan mengikuti aturan, peduli, disiplin waktu, tidak mudah menyerah serta bertanggungjawab dalam mengerjakan tugas

3.1     Mengenal konsep pecahan senilai dan melakukan operasi hitung pecahan menggunakan benda kongkret / gambar
4.3     Mengurai sebuah pecahan menjadi sebagai hasil penjumlahan atau pengurangan dua buah pecahan lainnya dengan berbagi kemungkinan jawaban
Indikator:
3.1.1  Menentukan pecahan setelah mengamati gambar dan melengkapi tabel
4.3.1 Membedakan pecahan senilai dan tidak senilai setelah melakukan eksplorasi dengan gambar pecahan dan diskusi kelas
SBdP
Kompetensi Dasar:
1.1         Mengagumi ciri khas keindahan karya seni dan karya kreatif masing-masing daerah sebagai anugerah Tuhan

2.2    Menunjukkan rasa ingin tahu dalam mengamati alam di lingkungan sekitar untuk mendapatkan ide dalam berkarya seni

3.2     Mengenal karya dua dan tiga dimensi berdasarkan pengamatan
4.2     Membuat karya seni kolase dengan berbagai bahan
Indikator:
4.2.1 Mencipta karya seni kolase menggunakan bahan alam dan barang bekas

C. Tujuan Pembelajaran
1.             Setelah mengamati gambar, siswa mampu menjelaskan bentuk luar (morfologi) tubuh hewan dan fungsinya dengan benar
2.             Setelah mengamati gambar dan melengkapi tabel, siswa mampu menentukan nilai pecahan dengan benar
3.             Setelah melakukan eksplorasi dengan gambar dan diskusi kelas, siswa mampu menentukan pecahan yang senilai dengan pecahan yang ditentukan
4.             Dengan menggunakan bahan alam dan barang bekas, siswa  mampu membuat karya seni kolase dengan teknik yang benar




D. Materi Pembeajaran
1.       Bentuk luar (morfologi) tubuh hewan dan fungsinya
2.       Pecahan senilai
3.       Kolase

E. Metode dan Pendekatan Pembelajaran
1.               Metode                  : inquiry ,diskusi kelompok, ceramah
2.               Pendekatan            : Sainitifik (scientifik)

FMedia, Alat, dan Sumber Belajar
1.                  Media dan Alat : daun kering, bulu ayam / bebek, rumput kering (atau bahan lain dari alam) , gunting, lem
2.                  Sumber :
            Buku Guru Tema 3 hal 5-10
            Buku siswa Tema 3 hal 1-9
            Gambar  untuk kolase
Contoh kolase
G. Langkah-langkah Pembelajaran
KEGIATAN
DEKSKRIPSI KEGIATAN
ALOKASI WAKTU
Kegiatan Pendahuluan
1.     Guru memberikan salam dan mengajak berdoa (religius)
2.     Guru mengecek kehadiran peserta didik
3.     Guru melakukan apersepsi dengan memberi  pertanyaan
Misal : “anak-anak, hewan apa saja yang ada di sekitar kita?”
4.     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran tentang bentuk luar (morfologi) tubuh hewan dan fungsinya, pecahan senilai, dan kolase

10  menit










180 menit

Kegiatan Inti



1.      Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan diskusi
2.      Siswa mengamati gambar  dan membaca teks yang ada di buku siswa
3.      Siswa berdiskusi menemukan dan mendata hewan yang ada di gambar
4.      Siswa mengerjakan pertanyaan secara berkelompok
5.      Siswa diingatkan oleh guru untuk berbicara secara bergiliran dan dimotivasi untuk mengajukan pertanyaan kepada teman untuk menggali informasi lebih lanjut
6.      Siswa / masing-masing kelompok diminta untuk menyampaikan hasil pengamatan di depan kelas
7.      Siswa dipandu guru untuk menjawab pertanyaan yang terdapat di buku siswa untuk memahami konsep pecahan, khususnya pecahan yang merupakan bagian dari sekelompok benda
8.      Siswa mengerjakan latihan soal
9.      Setelah memahami pecahan yang merupakan bagian dari suatu kelompok benda, siswa diajak bereksplorasi dengan pecahan yang merupakan bagian dari suatu benda utuh
10.  Siswa memperkirakan pecahan sederhana dengan cara menggambarkan di gambar pohon yang terdapat di buku siswa
11.  Siswa diminta menceritakan gambar pohon yang dibuatnya
12.  Siswa dipandu guru untuk memahami pecahan sebagai bagian benda utuh melalui eksplorasi dengan media gambar pecahan
13.  Siswa mengerjakan latihan soal
14.  Siswa mengamati bagian tubuh merpati yang terdapat di buku siswa dan melengkapi tabel yang telah disediakan.
15.  Siswa mengumpulkan hasil pekerjaan mereka untuk dinilai
16.  Siswa berkreasi membuat kolase dengan gambar yang telah disediakan guru
17.  Siswa mengumpulkan hasil kolase untuk penilaian

Kegiatan Penutup
1.      Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan hasil pembelajaran pada pertemuan hari itu.
2.      Beberapa siswa diminta untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti.
3.      Siswa menjawab pertanyaan renungan
4.      Siswa mendengarkan pesan moral dari guru untuk peduli terhadap makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari
5.      Siswa diberi pengayaan untuk menemukan 4 pecahan senilai untuk  , , dan lain-lain
6.      Siswa diberi PR untuk mengamati hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dengan bantuan orang tua
7.      Siswa yang belum tuntas dalam memahami konsep pecahan senilai akan mengikuti program remedial setelah jam sekolah
8.      Hasil pekerjaan siswa dijadikan portofolio
9.      Salam dan doa penutup
20    enit
H. Penilaian
      1. Teknik Penilaian
a.         Portofolio (produk)
b.         Penilaian Tertulis
c.         Penilaian sikap
2. Bentuk Instrumen Penilaian
a)      Lembar Penilaian Sikap :
No
Nama Peserta Didik
Sikap
cermat
teliti
Tanggung Jawab
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4











































Keterangan :
1:tidak pernah ditunjukkan; 2:kadang-kadang ditunjukkan; 3:sering ditunjukkan; 4:selalu ditunjukkan.
Berilah dengan tanda centang (v) pada kolom yang sesuai
                                                   



b)   Rubrik Penilaian Kolase ( SBdP )
Kriteria
Bagus Sekali
Cukup Bagus
Perlu Berlatih Lagi
Desain
Seluruh bahan dipotong dengan ukuran dan bentuk yang tepat dan disusun dengan rapi

( 3 )

Sebagian besar bahan dipotong dengan ukuran dan bentuk yang tepat dan disusun dengan rapi
(2)
Sedikit bahan dipotong dengan ukuran dan bentuk yang tepat dan disusun dengan rapi

(1)
Bahan
Menggunakan sedikitnya 4 jenis bahan alam

(3)

Menggunakan 3 jenis bahan alam

(2)
Menggunakan 2 jenis bahan alam

(2)
Waktu
Menyelesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan

(1,5)

Menyelesaikan 5 menit setelah waktu yang ditentukan

(1)
Tidak menyelesaikan dalam waktu yang ditentukan
(0,5)
Penilaian          =
Contoh                        =  x 10 =  x 10 = 0,867 x 10 = 8,7

c)    Lembar Kerja matematika dinilai dengan angka ( Matematika )


d)   Fungsi dan bagian tubuh burung dinilai dengan daftar periksa ( IPA )
No
Kriteria
Ya
Tidak
1
Siswa mampu menuliskan fungsi paruh dengan benar


2
Siswa mampu menuliskan fungsi sayap dengan benar


3
Siswa mampu menuliskan fungsi ekor dengan benar


4
Siswa mampu menuliskan fungsi cakar dengan benar



Mengetahui
Kepala Sekolah,



H. Moch. Faizin, S.Pd
NIP.195712091977011001

........, ......................... 2014
Guru Kelas IV



Sutrisno, S.Pd.I